Posts

Showing posts with the label Fiksi

Ingatan Seorang Ksatria

Image
Dear Kitaro Minami Hampir dua dekade sudah dirimu tak nampak dari layar televisi. Anak-anak masa kini mungkin tidak mengenalmu lagi, mereka lebih ramah dengan nama Robocop, Bumble B, Captain America dan penerus sebangsamu. Bahkan di antara nama-nama itu, ada juga yang tak tahu menahu. Mereka lebih senang dengan flappy bird dan candy crush. Namun bagi saya beserta orang-orang yang memulai kehidupan anak-anak di masa 90-an, kamu adalah salah satu favorit. Bagaimana tidak, kamu itu sudah keren, kuat, pandai, senang menolong orang dalam kesulitan, dan membasmi kejahatan.  

Bukan "Malem Minggu Miko"

Image
                     9.05 waktu Indonesia tengah… yap, malem minggu. Bosan di depan layar, sedari tadi Cuma adanya angka dan garis-garis dengan hitam sebagai latar. Software autocad ini kenapa temanya darkness gitu.. “yaelah mending sih daripada warna pink atau ijo kolor!”… sela salah satu senior saya lewat handphone… sementara di bilik lain, beberapa dokumen skripsi merengek agar segera diselesaikan.. sebelum mereka bener-bener di garis mati… mati beneran.. aneh menurut saya, beberapa hari kemaren banyak dari orang-orang yang saya follow di twitter nulisnya gini “ selamat datang Maret” “welcome my march” “akhirnya maret juga”…. Apa-apaan itu… emang maret punya kamu aja… sayalah satu-satunya manusia sekaligus mahasiswa arsitektur tingkat akhir (dari setahun yang lalu) yang maunya si maret datang agak lambat…. Valentine kemaren saya digantung sama seorang cewe (baca:rentenir cinta), jangan-jangan Maret ini bokap...

Tangga Lagu

Image
Denger musik? Yess.. nyanyi? noo… edisi tulisan saya kali ini menceritakan sepenggal lirik lagu kala saya dan kalian masih kecil…. Lumayan membekas juga sih liriknya, tak kalah dengan musik jaman sekarang…   wah wah repot juga tadinya harus menggali sisa-sisa ingatan tentang mereka…. Saat ini mereka jarang atau bahkan tidak pernah lagi dilantunkan oleh anak jaman sekarang… hehehe.. mereka lebih memilih ungu dan violet… seven icon dibanding mengetik sms seven wonders… tapi setelah saya perhatiin dengan seksama ternyata memang banyak kekeliruan di dalamnya… hal-hal yang tidak kontekstual lagi rupanya…   inilah sederet pengalaman saya dengan mereka…

Jingga

Image
       Jingga, Kita . Jika ada maksud dan harapan yang lain dari kata ini, sepertinya kita memiliki maksud yang sama, harapan yang sama, untuk kita namun jika tidak, Saya tak akan menganggapnya sebagai sesuatu yang harus disesali. Sekali lagi terimakasih... Untuk pernyataannya, untuk mau berbagi dengan saya dan mendengarkan saya, terimakasih untuk semuanya. Terimakasih untuk simpati dan rasa empatinya. Tak ada yg perlu dimaafkan, sy telah menyambut Jingga, sampai sejauh ini... entahlah Ngga   sudah sampai di ruangan mana dan betah sampai kapan. Saya tak akan pernah mencba untuk menahan...

Bercerita Banyak Tentangmu

        Hari boleh saja sama, tapi tidak untuk setiap moment; aku menghargai dan inginku selalu mengenangnya; salah satu alasan yang menjadikan saya pria yang memiliki diary waktu sekolahan dulu. hohoho lebay ya... paling tidak sedikit banyak aku punya seribu macam cerita di sana.         Tujuh tahun silam dan surat ini masih terselip rapi di bundle-ku. Sebut saja namanya Anastasia(1); Gadis belia yang masih berusia 16 tahun waktu itu… tulisan terkadang adalah penawar bagi mereka yang ingin menyampaikan sesuatu namun sulit untuk diungkapkan secara lisan.. hehe gue banget tuh… salutku dibuat jadinya, si Anastasia mengirimiku secarik kertas… menekan pena biru merangkai kata, meyeruak makna yang cukup dalam, namun sayang kala itu aku juga masih benar-benar biru… tak tahu menahu dan kuanggap sebagai hal yang wajar-wajar saja… pernah kuberencana membalasnya, alhasil bersama seorang sahabat (2) aku kerajingan masuk p...

Dia, Dia dan Dia

Image
       Dia masih berhubungan darah denganku. Namanya dewi, saat itu kami masih seumur jagung. Tahun ketiga di sekolah menengah pertama bukannya berkonsentrasi persiapan ujian nasional melainkan waktu itulah pertama kali aku belajar untuk menyukai kaum wanita… lucu juga kubayangkan saat itu, sepulang sekolah sepasang anak ingusan berjalan di koridor menuju gerbang sambil berbicara hal-hal yang tidak karuan. Tentang tugas sekolah-lah, kegiatan ekstra-lah sampai-sampai warna & makanan kesukaan tidak luput dari perbincangannya. Sering kulihat kau di reuni keluarga, resepsi pernikahan & acara kantor orangtua kita. Sekelas dalam sembilan tahun sepertinya waktu yang cukup lama untuk menyulap pertemanan menjadi kekasih…

I like rainy

Mungkin aku adalah salah satu pengagum hujan yang berkeliaran di luar sana. Saat hujan datang, anak-anak kegirangan menyambutnya. Bermain air di taman…menggoyangkan dahan agar segera bersimpuh riuh ribuan titik di tanah… Membuat bola dari tanah liat, melempar sambil berteriak agar jangan sampai jatuh di kolam… Di jalan sana, pengendara dua roda berhamburan. Mereka saling berlomba-lomba mencari tempat berteduh. kanopi-kanopi rumah toko pinggiran jalan selalu menjadi tempat favorit bagi mereka yang benar-benar tidak menyangka akan turun hujan…

Kado Untuk Ayah

Saat aku meminta sesuatu, kau tak pernah berkata tidak.. meski kutau dengan segala cara kau mendapatkan apa yang aku inginkan… Saat malam tiba, kau tidur di sampingku… meski kutau kau tak benar-benar tidur… jiwamu terbang mencari cara aku tetap makan & hidup untuk esoknya… Saat aku berbuat salah, kau memarahiku… meski kutau marahmu itu bukan dari hatimu yang terdalam melainkan membuatku belajar… agarku bertindak tanduk agar lebih baik… Saat aku tertawa… kau juga terbahak tak kalah hebohnya… meski kutau kau menangis di hadapanNya karena melihatku bahagia… Tuhan…  karena kau Tuhanku… Tempatku mengadu, meminta dan menggantungkan harapan,,, Panjangkanlah umur ayahku… berilah ia waktu hidup lebih lama.. Perkenankanlah ia melihat anaknya, aku yang sedang memakai toga kelulusan… Perkenankanlah ia melihat ketika kumeminang sorang wanita… Perkenankanlah ia menimang cucu dariku… Perkenankanlah ia melihat aku menjadi manusia sesungguhnya… untuk sanak, nusa & agama… ...

Tanpa Nama

Image
Waktu itu, Kudapati selembar kertas di lokerku… aku tak benar-benar yakin kertas itu tertuju kepadaku… Akronim AH di sudut atasnya seakan memberitahuku… ‘adri, kertas ini untukmu, hanya untukmu’… Lebih kurangnya Kertas itu bertuliskan…. Pernah kumarahi kamu, tapi aku tak benar-benar marah … Pernah kubentak kau di depan tman-temanku, tapi tak benar-benar aku membentakmu… Sering aku mengabaikanmu, tapi sungguh aku tak benar-benar seperti itu… Sering kutolak ajakanmu, tapi aku tak pernah benar-benar ingin menolaknya… Tidak jarang kuhiraukan nasehatmu, tapi tak benar-benar kuhiraukan kau… jarang pula kubalas senyummu, tapi sungguh hati ini tersenyum untukmu… kulihat kau dengan aku yang lain, senang kurasa tapi sungguh aku tak benar-benar bahagia… tanpa sengaja,acap kali dengan katamu aku menangis…tak benar-benar sedih tapi karena senangnya… sering kujauhi & kuhindari kau, tapi aku tak benar-benar seperti itu… Abaiku adalah peduliku Marahku adalah sukak...

Terimakasih Kemarin

Hari #7 #15harimenulisdiblog temanya telor dadar… wah jadinya lapar… Tak tau harus cerita apaan… aku tak sekalipun punya kenangan dengan si bunder pipih itu… Paling kalo sudah di dpan mata, tanpa basa basi langsung kumasukkan ke mulut…. Sudahlah, mari dengarkan curhatku… Kemaren apa tadi malam ya !! 1.15 am kupejamkan mata ini; berharap mendapatkan sisa-sisa energi dalam gelapnya terang. kubiarkan laptop itu mendengar instrument sendirinya, menunggu agar Ia segera dapat menyelesaikan slide-slide presentase judulku… sejam kemudian, kuterbangun, kulihat dua slide punyaku belum bertambah-tambah juga… “Fn + F4” sleep… kutekan bersamaan pada keyboard… kusetel alarm di handphone_ku 4.00 am; empat jam sebelum kuharus berada dalam ruang sejuk berukuran tidak lebih dari 16 meter persegi itu dengan bawaan slide-slide luar biasa beratnya tuk diselesaikan.…

Aku dan Si Penakluk

Dia setegar namanya, Tegar … Dialah sang penakluk dunia… Dia sebaya denganku, berambut ikal, berkulit hitam, penampilan yang dekil, pakaian usang, tanpa alas kaki, dan tak terawat… Adalah dia yang senantiasa memperhatikanku di balik jendela taman kanak-kanak… Adalah Dia yang selalu menemaniku setelah kupulang dari taman kanak-kanak… Dia adalah adalah sahabatku; sahabat jendela duniaku … kuajar kau bermain origami; kubuatkan pesawat kertas dan kau membantu  …menerbangkannya kuajar kau merangkai bunga; dan kaupun mengajariku cara menyeduh madu, kucicipi.. ehm manis terasa… Kuajar kau rasa suka dengan teman wanitaku; dan kau ajarku senang dengan alam… Kuajar kau doa sebelum makan; dan kau ingatkan agar kuselesai sebelum kenyang.… Sesekali Kuajak kau bermain ayunan di taman sekolahku; dan sesekali pula kau ajakku ke tebing yang tinggi itu sembari menunggu petang dan bercerita tentang masa depan… Pernah kuminta kau menemaniku ke panta...

Cinta Dalam Angka

Image
wah hidup The GUNNERS . Sleepy, where’s my pillow…..barusan Arsenal kalah dua satu dari hotspur…___1.16 Am… kekalahan Arsenal tidak lebih menyedihkan dibanding ketika kau tak lagi di sini... dan tidak membaca suara-suara sendu merdu di blog_ku….. nyusun kata-kata #3 #timeline #15harimenulisdiblog… Sebut saja namanya Hairyza ; kutatap langit dan kuminta izin meminjam namamu; yup hanya untuk malam ini saja….. Akhirnya selesai juga kubereskan ruang berukuran empat kali tiga itu. tidak banyak yang berubah setelah kutinggalkan hampir setengah dekade…sedari dulu memang kutitip pesan agar tak satupun dari mereka yang bisa menempati apalagi sampai mengubah susunan benda-benda dalam ruanganku…Ruang itu penuh kenangan….Termasuk lemari dan tempat tidur yang hanya berjarak satu kaki dari lantai ubin buatan seniman urban… Ialah kamarku masa sekolahan dulu… masa putih abu-abuku… waktuku meraba hitam putihnya dunia… Masa dimana pertama kali kukenal rasa senang… senang bila k...

AKu, Kamu, dan Tuhan

Dialog yang kutulis ini 100% fiktif… Tidaklah pantas Tuhan disandingkan dengan ciptaanNya sendiri… tidak ada tawar menawar dengan ajarannya. apa yang aku tulis tentangNya tidak lain dan tidak lebih aku percaya bahwa Tuhan itu ada beserta kekuasaannya. Karena dialah tempatku meminta, tak rela rasanya air mata ini mengalir selain untukknya.. karana dialah maha cinta……. Tulisan ini kubuat terinspirasi dari seorang teman (Amir AFisu_http://amier-menulislage.blogspot.com/) yang juga sering membuat monolog seolah-olah berdialog denganNya…. Dan memang iya, saat ini memang aku suka sama seseorang…. Aku : Tuhan, sibukkah Engkau hari ini? Aku mau cerita sesuatu…. Tuhan : Aku tak pernah sesibuk dirimu, akhir-akhir ini kamu jarang meminta kepadaku…. Aku     : aku khawatir Kau tak akan mendengarku lagi, banyak perintahMu yang kulalaikan.. Tuhan : Adri.. Adri… Aku ini Tuhan.. yang menciptakanmu.. dalam keadaan apapun aku selalu mendengar jerita...

Tujuh Hari & Seribu Kata Buatmu

Image
Seminggu yang lalu kulihat kau; kau yang sedang berdiri di samping tepatku berduduk. Jalan yang berlubang sesekali membuat bus yang kita tumpangi berguncang, tak sampai hati melihatmu berkutat erat pada pegangan bus yang sudah karatan; segera kuberdiri dan kupersilahkan kau untuk duduk di tempatku . “oh iya makasih, g papa kq!” sahutnya menolak tawaranku… hahaha namanya juga wanita tak mau dipandang lemah… kuperhatiakn lagi caramu menatapku, dan biar kutebak wajah itu seakan memintaku membujuk untuk kedua kalinya…. Akupun tersenyum dan melirikkan mataku ke orang-orang yang juga menanti penumpang yang lain turun dan berharap segera mendapatkan kursi kosong. Kaupun tersenyum dan melunak; hehehe begitu dong.

Selalu Ada-ada Saja Tentangmu, Waktu

Bulan lalu, di kejauhan kulihat kau dengan teman-temanmu. Berjalan dengan suasana yang ramai, tertawa dan candamu tak memalingkan wajahku selang beberapa waktu. Seminggu berikutnya, kau berdiri di sampingku. Cukup dekat. Nampak kau sibuk memainkan jari pada telepon genggammu. Sepertinya kau sedang menunggu seseorang. Kupun terdiam sembari sesekali kulirik kau dengan ujung mataku (mmangX mata punya ujung ya). Kutak ingin merusak suasana. Sehari setelah itu, dalam tidurku aku bermimpi. Tidak jelas juga sih, namun kuyakin siluet itu adalah kau. seminggu dari peristiwa bawah sadar itu, kita bertemu lagi. Kali ini aku yang sedang menunggu temanku. Kau tersenyum padaku dan kupun membalas dengan senyum yang tak kalah lebarnya.  Tiga hari kemudian kitapun resmi berteman. Ternyata kau adalah teman dari temanku yang lain, hehehe Alhamdulillah ya…  Setelah itu, tak bisa kupungkiri jika kau memang sedikit mengubah keseharianku. Selalu ingin melibatkanmu dalam r...

Mengutip Secarik Kertas dari Bawah Bantal

     Seperti sabtu malam-malam sebelumnya, berjalan di pantai depan RUMAHku adalah hal yang kusenangi sebelum merangkai impianku dalam pembaringan. Dulunya sih kusering berjalan dengannya di tempat ini. Walau pendiam, dia sangat berarti bagiku, sampai saat ini malah. Sejenak kupikir bahwa aku menyesal kehilangannya; menyesal dulunya tidak kujaga dengan tulus, bahkan sedikitpun tak pernah terpikirkan betapa besar pengorbanannya hanya untuk melihatku berdiri tegar,membantuku meloncat dan berlari mengejar matahari. Terimakasih buatmu kutitipkan lewat desiran ombak yang kian membawamu entah kemana; terimakasih buat alas kaki swallow hijau-ku; ialah Pemberian dari seorang pamanku yang kusanyangi. yaaah beberapa waktu lalu terseret ombak di tempat ini, semenjak peristiwa itu aku tak lagi pernah menggunakan swallow-swallow yang lain sesaat ketika kulakukan rutinitasku di pantai ini.

Untuk Perempuan

   ‘’Betapa sulit meyakinkannya bahwa mereka sangatlah dihargai, tidak mudah membuatnya paham bahwa mereka sangatlah dimengerti, itulah mereka’’ Teriknya siang itu tak cukup kuat untuk membuatku melepas tatapannya. Sekian DETIK percikan-percikan elektron bergejolak yang pernah kurasakan kini terulang kembali, tapi lebih dahsyat. Dan Takkuasa menahannya. JAMpun terhenti dan dengan polosnya kukatakan aku suka padamu dan kaupun demikian; hatiku telah lumpuh karenamu; Sungguh hatiku milikmu sepenuhnya gumamku dalam hati.

Amnesia

      Bukankah hari ini adalah hari ulang tahunku. Tidak seperti biasanya, salam itu tak kunjung datang. Sambil duduk menyudut sesekali kulihat telepon genggamku berharap bertuliskan namamu. bosan kumenunggu, akupun tertidur.      Setelah bangun, kuingat sesuatu. Kuatur langkahku menuju kalender yang bersandar lusuh di dindingku. Uhhm 15th Monday. so busy, sepertinya hari ini kupunya banyak agenda. mulailah kuurutkan sesuai prioritas ala pengalamanmu belajar manajemen. Dari sudut kanan bawah kuperbesar pupilku, berusaha memasukkan lebih banyak cahaya tuk Melihat deretan abjad merah yang tak teratur. Bukankah hari ini aku dan kamu akan bertemu di sebuah Taman di mana kita pertama kali bertemu. Tanpa berlama-lama, segera kuberanjak menyiapkan segalanya.

Lihat, Dengar, dan Rasakan

Ruangkanlah sejenak, dan lihatlahlah warna kemesraan dan cinta. Apakah kalbumu terasa sunyi Bahasa tubuhnya mengartikan rindu kepadanya Luangkanlah Detik dalam sibukmu      Jalan setapak itu membawa kaki ini saling bergantian melangkah di atas serpihan-serpiahan batu sungai_bekas menuju sebuah susunan kayu dan sedikit sandstone buatan seniman urban. Yah banguan tua itu terlihat bersih dan begitu tertata rapi. Pemilik bangunan bernuansa cokelat gelap itu nampaknya sangat bersahaja. Udara segar pagi hari di tengah desiran tulip-tulip, indahnya kicauan burung menghiasi hijaunya taman ini pikirku.       Terdengar suara sendu merdu membuatku yakin untuk segera melihat apa gerangan di balik dinding itu. semenit terasa lama mengantarkan kedua kaki-kaki ini rupanya. Kulihat seorang perempuan kecil berkerudung putih, membelakangiku dan sedikit menunduk. Kuperbaiki posisiku agar tetap terjaga dalam kesimbangan antara raga dan jiwa penasaran ini. Sina...

Kalaulah Waktuku Banyak, Menanti Ramadhan Tahun Depan

            Sebulan lamanya terbaring di ruang yang sejuk itu, tanpa makan dan minum, tanpa berkata-kata, tanpa canda & tawa, dua belas kantong darah yang mengalir dalam tubuh ini lebih dari cukup untuk menggambarkan kekuasaan-Nya. Kuucapkan syukur Alhamdulillah untuk itu.             Saat malam datang, sesaat ketika semua orang di luar sana terlelap dalam tidurnya. Aku berdiri disudut kamar itu, wuih … suasananya sangat nyaman dan tenteram. Kulihat diriku terbaring kaku di atas tempat tidur berkasur lusuh itu; kakikupun mulai membengkak; naik turun dadaku terasa berat; bayang tabung oksigenpun menghalangi cahaya lampu membuat kutak mampu melihat jelas raut wajahku; tanganku diam menjaga jarum infus agar tetap berada di arteriku.